Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah
أهَمِّيَّةُ عِلْمِ التَّوْحِيْدِ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا
A. Bahaya Akibat Jahil terhadap Ilmu Tauhid (أَضْرَارُ الجَهْلِ بِعِلْمِ التَّوْحِيْدِ )
Apa akibat negatif dari kejahilan terhadap ilmu tauhid dalam hidup manusia?
Pertama, orang yang tidak mengenal Penciptanya seperti orang buta di dunia ini, ia tidak tahu mengapa ia diciptakan, atau apa hikmah (tujuan) keberadaannya di atas bumi ini. Hidupnya berakhir dalam keadaan ia tidak tahu mengapa ia memulai hidup. Ia keluar dari dunia tanpa tahu mengapa ia dulu masuk ke dalamnya.
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ-١٢
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12).
Kedua, siapa yang tidak beriman kepada hari akhir, maka ia ditipu oleh dunia, ia jadikan semua cita-cita dan ambisinya adalah bagaimana mewujudkan kepentingannya di dunia sebelum mati, mengambil yang halal dan haram, tidak peduli apakah itu membahayakan orang lain atau tidak karena yang penting adalah kepentingannya. Dengan sikap egois ini masyarakat menjadi cerai berai, interaksi dan hubungan sesama anggota masyarakat menjadi rusak, mereka saling membenci dan memerangi, tidak seperti masyarakat yang beriman dan berpegang teguh dengan agamanya.
Ketiga, bila kejahilan terhadap ilmu tauhid ini merata di masyarakat, maka aqidah atau keyakinan masyarakat akan rusak, lalu amal pun akan rusak, maksiat dan dosa tersebar luas, kemudian mengakibatkan turunnya hukuman Allah swt atas umat Islam yang mengabaikan atau meninggalkan prinsip agama mereka.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ-٤١
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).
B. Pengaruh Ilmu Tauhid dalam Kehidupan (ثَرُ عِلْمِ التَّوْحِيْدِ فِي الحَيَاة ِ)
Apakah pengaruh ilmu tauhid dalam kehidupan?
Pertama, orang yang bertauhid dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya pasti tahu mengapa Allah SWT menciptakannya sehingga ia berada di atas jalan yang lurus, ia mengetahui dari mana awal dan ke mana akhir hidupnya, jauh dari kebutaan dan kesesatan.
أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ-٢٢
“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. Al-Mulk: 22).
Kedua, tauhid menjadikan hati-hati manusia bersatu dengan Rabb yang satu, satu kitab, satu risalah, dan satu kiblat, dan iman juga menjadikan manusia saling mencintai dan bersaudara seperti firman Allah SWT :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون-١٠
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10).
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالحُمََّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رضي الله عنه).
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling bersikap lemah lembut adalah seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit maka semua anggota tubuh yang lain akan sulit tidur dan demam.” (HR. Muslim dari An-Nu’man bin Basyir RA).
Masyarakat beriman adalah masyarakat yang melakukan ta’awun (saling bekerja sama) dalam kebaikan dan taqwa dimana anggota masyarakatnya saling melarang dari perbuatan dosa dan permusuhan, semua berusaha untuk sukses menggapai ridha Allah, individunya merasa takut untuk berbuat zhalim, mencuri, menipu, membunuh, berzina, menyuap atau menerima suap, berdusta, dengki, ghibah atau perbuatan jahat lain karena ia takut kepada Allah dan takut kepada hari di mana ia harus berhadapan dengan Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan semua amalnya.
Dan ketika kaum muslimin berpegang teguh dengan tauhid mereka menjadi orang-orang yang terbaik seperti firman-Nya:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ﴿١١٠﴾
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran: 110)
Ketiga, bila iman telah menyebar luas di masyarakat, maka pastilah akan membuahkan amal shalih yang diridhai Allah swt sehingga membuka berbagai pintu kebaikan dan mendatangkan pertolongan Allah dalam menghadapi musuh-musuh mereka.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿٩٦﴾
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Begitulah dulu kaum muslimin, sebelumnya mereka adalah orang-orang yang lemah dan miskin, namun mereka beriman dan beramal shalih hingga Allah membuka pintu-pintu keagungan di dunia untuk mereka, Allah cukupkan mereka dengan karunia-Nya, dan Allah tolong mereka dari musuh-musuh mereka dengan pertolongan yang gilang-gemilang.
C. Kesimpulan (الخُلاَصَةُ)
Siapa saja yang tidak mengenal tauhid maka ia buta seperti hewan yang mati berkalang tanah dalam keadaan tidak tahu mengapa ia dulu memulai kehidupan, ia meninggalkan dunia tanpa tahu mengapa dulu ia memasukinya.
Mereka yang tidak beriman kepada hari akhir tidak ada yang ia pikirkan kecuali pemenuhan kesenangan dunia tanpa peduli halal atau haram. Dengan begitu kehidupan menjadi rusak dan masyarakat pun terpecah belah.
Jika ia iman melemah, maka dosa akan bertambah sehingga mungkin saja Allah SWT menurunkan azabnya bagi para pendosa.
Orang yang beriman mengenal Rabb dan Penciptanya, ia mengetahui mengapa Allah menciptakannya di dunia ini sehingga ia hidup dengan petunjuk dari Allah SWT, berjalan di atas jalan yang lurus. Orang yang beriman dengan iman yang benar tidak akan berbuat zhalim, mencuri, berzina, atau perbuatan haram lainnya, dengan demikian hidup masyarakat akan baik, anggota masyarakat bersaudara dan solid.
Iman itu berbuah amal shalih, membuat ridha Al-Khaliq, sehingga berbagai keberkahan pun Ia bukakan, bantuan-Nya kepada kaum mukminin pun Ia kucurkan untuk menolong hamba-Nya menghadapi musuh mereka sebagaimana terjadi dengan salaf shalih.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/28/17681/atsar-tauhid-dalam-kehidupan-bagian-ke-2-selesai/#ixzz2VbGhVami
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
ROMA - Akhir musim panas, satu keputusan besar diambil Michael Barradine. Tidak mudah memang, karena Barradine lebih memilih untuk lebih dahulu meyakinkan hatinya 100 persen sebelum mengucapkan syahadat. Momentum itu akhirnya datang.
“Di hadapan ratusan orang, saya ucapkan syahadat. Banyak yang memelukku. Saya pun menangis,” kisahnya dengan air mata berlinang, seperti dinukil dari onislam.net.
Seketika itu, Barradine mengubah namanya menjadi Muhamamd Asad. Nama ini dipilih karena harapannya agar menjadi Muslim yang baik. Nama itu juga mencerminkan perubahan kepribadiannya sejak menerima Islam.
Tak butuh waktu lama, bagi Barradine untuk segera berdakwah. Ia mulai menjadi pembicara tentang Islam di gereja, sinagoga dan lainnya. Ia juga mulai mengajar bahasa Arab.
Beberapa tahun kemudian, ia pergi haji. “Sekarang saya menulis sebuah buku tentang Sejarah Islam dan Muslim di Era Modern,” tutupnya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnz0h5-jadi-mualaf-michael-barradine-siarkan-islam-di-sinagog
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
“Di hadapan ratusan orang, saya ucapkan syahadat. Banyak yang memelukku. Saya pun menangis,” kisahnya dengan air mata berlinang, seperti dinukil dari onislam.net.
Seketika itu, Barradine mengubah namanya menjadi Muhamamd Asad. Nama ini dipilih karena harapannya agar menjadi Muslim yang baik. Nama itu juga mencerminkan perubahan kepribadiannya sejak menerima Islam.
Tak butuh waktu lama, bagi Barradine untuk segera berdakwah. Ia mulai menjadi pembicara tentang Islam di gereja, sinagoga dan lainnya. Ia juga mulai mengajar bahasa Arab.
Beberapa tahun kemudian, ia pergi haji. “Sekarang saya menulis sebuah buku tentang Sejarah Islam dan Muslim di Era Modern,” tutupnya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnz0h5-jadi-mualaf-michael-barradine-siarkan-islam-di-sinagog
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
ROMA - Michael Barradine telah melakukan pengembaran spritual lebih dari 30 tahun. Ia memulainya dari mempelajari Katolik, Agnostik, hingga akhirnya Islam menjadi pelabuhan terakhirnya.
“Hanya dalam Islam, saya menemukan jawaban atas semua pertanyaanku,” ungkapnya seperti dikutip onislam.net, Senin (6/6).
Perjalanan spiritual Barradine dimulai ketika ia menempuh pendidikan S3 di Universitas Arizona. Di sana, ia pelajari studi Timur Tengah dan sejarah kerajaan Inggris. Sebelum itu, ia lebih dekat dengan tradisi Kristen. Karena, ia bersekolah di Kodaikanal Internasional School.
Namun, orang tuanya yang seorang pimpinan California-Texas Oil Company (Caltex), membuatnya kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Bahrain merupakan negara pertama yang ia singgahi. Lalu berlanjut ke India. Di India, Barradine mendalami ajaran Kristen, karena ia bersekolah di sekolah Kristen.
Selesai sekolah, ia merasa tertarik dengan Kristen sehingga ia mendalami ajaran itu dengan memasuki sekolah Notre Dame Internasional School, Roma. “Di kota ini, saya mempelajari lebih lanjut tentang Kristen. Saya belajar dengan uskup secara langsung,” katanya menjelaskan.
Selama di Roma, Barradine begitu terpesona dengan iman Katolik. Ia pun berencana menjadi seorang Imam. Namun, di antara sekian negara tempat yang ia singgahi Bahrain merupakan yang paling berkesan. Di sana ia mendengar panggilan adzan dan melihat Muslim melaksanakan shalat. “Ini membuatku begitu terkesan. Saya suka mendengarnnya,” katanya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnyzw7-michael-barradine-panggilan-adzan-membuatku-terkesan
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
“Hanya dalam Islam, saya menemukan jawaban atas semua pertanyaanku,” ungkapnya seperti dikutip onislam.net, Senin (6/6).
Perjalanan spiritual Barradine dimulai ketika ia menempuh pendidikan S3 di Universitas Arizona. Di sana, ia pelajari studi Timur Tengah dan sejarah kerajaan Inggris. Sebelum itu, ia lebih dekat dengan tradisi Kristen. Karena, ia bersekolah di Kodaikanal Internasional School.
Namun, orang tuanya yang seorang pimpinan California-Texas Oil Company (Caltex), membuatnya kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Bahrain merupakan negara pertama yang ia singgahi. Lalu berlanjut ke India. Di India, Barradine mendalami ajaran Kristen, karena ia bersekolah di sekolah Kristen.
Selesai sekolah, ia merasa tertarik dengan Kristen sehingga ia mendalami ajaran itu dengan memasuki sekolah Notre Dame Internasional School, Roma. “Di kota ini, saya mempelajari lebih lanjut tentang Kristen. Saya belajar dengan uskup secara langsung,” katanya menjelaskan.
Selama di Roma, Barradine begitu terpesona dengan iman Katolik. Ia pun berencana menjadi seorang Imam. Namun, di antara sekian negara tempat yang ia singgahi Bahrain merupakan yang paling berkesan. Di sana ia mendengar panggilan adzan dan melihat Muslim melaksanakan shalat. “Ini membuatku begitu terkesan. Saya suka mendengarnnya,” katanya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnyzw7-michael-barradine-panggilan-adzan-membuatku-terkesan
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
![]() |
| Abanda Herman |
Keinginan Abanda menjadi seorang Muslim dilandasi ketertarikannya dengan agama Islam yang dinilai memiliki arti tersendiri dalam tata cara beribadah. Kepada Umuh, Abanda sering mengaku iri dengan para pemain dan manajemen Maung Bandung yang suka shalat berjamaah di mess sebelum laga.
“Itu (memeluk agama Islam) permintaan pribadi dia (Abanda). Dia bilang bahwa dia sangat tertarik karena kita (tim) sering shalat berjamaah," kata Umuh seperti dilansir Persib Online.
Abanda saat ini berusia 29 tahun. Sebelum memperkuat Persib, ia pernah memperkuat tim-tim, seperti PSM Makassar, Persija Jakarta, dan Persema Malang.
Sumber: http://www.republika.co.id
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
![]() |
| Oleh: Samin Barkah |
Ahmad Fathanah telah tertangkap tangan oleh KPK atas tuduhan suap impor daging sapi. KPK kemudian mengembangkan kasus ini hingga menjerat mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq yang kemudian tersangka ditangkap tangan di kantor DPP PKS.
Belum selesai proses peradilan di pengadilan Tipikor, lebih dari dua bulan media mainsteam, TVOne, MetroTV dan MNC Grup, majalah Tempo, detik.com ramai-ramai melakukan perusakan atas kehormatan LHI yang belum diputuskan bersalah oleh pengadilan Tipikor. Konteksnya akan berbeda, jika pengadilan Tipikor telah menetapkan status terdakwa.
KPK terus mengembangkan kasus suap impor daging sapi dan melupakan kasus-kasus besar, seperti kasus Century, Hambalang dan lainnya. Isi dan cara pemberitaan media mainstream melupakan etika jurnalis. Apa yang dilakukan media mainstream pada kasus LHI sudah sangat berlebihan. Dalam konteks ini, maka apa yang dilakukan oleh media mainstream sudah masuk dalam kategori ghibah dan iftira’, kebohongan.
Ulama salaf, terdahulu merupakan orang-orang yang sangat menjauhi ghibah dan takut terjerumus melakukan hal itu.
Di antaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dia berkata, “Aku mendengar Abu ‘Ashim berkata, “Semenjak aku ketahui bahwa ghibah adalah haram, maka aku tidak berani menggunjing orang sama sekali.” (At-Tarikh Al-Kabir)
Al-Imam Bukhari mengatakan, “Aku berharap untuk bertemu dengan Allah dan Dia tidak menghisab saya sebagai seorang yang telah berbuat ghibah terhadap orang lain.”
Imam Adz-Dzahabi berkomentar, “Benarlah apa yang beliau katakan, siapa yang melihat ucapan beliau di dalam jarh dan ta’dil (menyatakan cacat dan jujurnya seorang perawi), maka akan tahu kehati-hatian beliau di dalam membicarakan orang lain, dan sikap inshaf, obyektif beliau di dalam tadh’aif, melemahkan seseorang.
Lebih lanjut beliau (adz-Dzahabi) mengatakan, “Apabila aku (Imam Bukhari) berkata si Fulan dalam haditsnya ada catatan, dan dia diduga seorang yang lemah hafalannya, maka inilah yang dimaksudkan dengan ucapan beliau “Semoga Allah tidak menghisab saya sebagai orang yang melakukan ghibah terhadap orang lain.” Dan ini merupakan salah satu dari puncak sikap wara’. (Siyar A’lamun An -Nubala’)
“Aku tidak menggunjing seseorang sama sekali semenjak aku ketahui bahwa ghibah itu berbahaya bagi pelakunya.” (Siyar A’lam An-Nubala’)
Jika mereka terlanjur menggunjing orang lain, maka mereka langsung melakukan introspeksi diri.
Ibnu Wahab berkata, “Aku bernadzar apabila suatu ketika menggunjing seseorang, maka aku akan berpuasa satu hari. Aku pun berusaha keras untuk menahan diri, tetapi suatu ketika aku menggunjing, maka aku pun berpuasa. Kemudian aku berazam apabila menggunjing seseorang, maka aku akan bersedekah satu dirham dan karena sayang terhadap dirham, maka aku pun meninggalkan ghibah.”
Berkata imam Adz-Dzahabi, “Seperti itulah sikaf para ulama salaf dan itu merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat.”
Bahkan seorang yang melakukan ghibah pada hakikatnya sedang memberikan kebaikannya kepada orang lain yang dia gunjing. Bahkan Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Andaikan aku tidak benci karena bermaksiat kepada Allah, maka tentu aku berharap tidak ada seorang pun di Mesir, ini kecuali aku menggunjingnya, yakni karena dengan itu seseorang akan mendapatkan kebaikan di dalam catatan amalnya, padahal dia tidak melakukan sesuatu.”
“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 235)
Ibnu Daqiq Al-Ied berkata, “Kehormatan manusia merupakan salah satu jurang neraka yang para ahli hadits dan ahli hukum diam apabila berhadapan dengannya. (Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra).
Pemahaman ulama salaf tentang ghibah sedemikian dalam, hingga mereka selalu waspada akan kata dan sikapnya dalam menilai orang lain.
Kita pun bisa bersikap dan memahami masalah ini sebagaimana ulama salaf berpaham agar kita tidak termasuk orang-orang yang berbuat ghibah.
Ghibah atau membicarakan aib orang lain telah diharamkan Allah secara tegas di dalam kitab-Nya dan melalui sabda Rasul-Nya.
Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalain memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Al-Hujurat:12)
Adapun pengertian ghibah, Nabi Muhammad SAW telah menyebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak suka (untuk diungkapkan).” (HR. Muslim)
Rasulullah SAW telah mengharamkan kehormatan seorang mukmin dan mengaitkannya dengan hari Arafah, bulan haram, dan tanah haram. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini (hari Arafah), di bulan ini (bulan haram), dan di negeri ini (tanah haram). Ingat! Bukankah aku telah menyampaikan?” (HR Muslim)
Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan dengan sangat tegas bahwa membicarakan aib dan kehormatan seorang mukmin itu lebih parah dibandingkan dengan seseorang yang menikahi ibunya sendiri.
Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib r.a. dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu mempunyai 72 pintu, yang paling rendah seperti seseorang yang menikahi ibunya. Dan riba yang paling besar yakni seseorang yang berlama-lama membicarakan kehormatan saudaranya.”
Di dalam sebuah potongan hadits, riwayat dari Ibnu Umar r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berkata tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak terjadi (tidak dia perbuat), maka Allah akan mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli neraka, sehingga dia menarik diri dari ucapannya (melakukan sesuatu yang dapat membebaskannya).”(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, disetujui Adz-Dzahabi)
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Ghanam r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang jika dilihat (menjadi perhatian) disebutlah nama Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang berjalan dengan mengadu-domba, memecah belah antara orang-orang yang saling cinta, dan senang untuk membuat susah orang-orang yang baik.” (HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. dia berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai orang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian semua menyakiti sesama muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah kalian semua mencari-cari (mengintai) kelemahan mereka.
Karena siapa saja yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan mengintai kekurangannya, dan siapa yang diintai oleh Allah kekurangannya, maka pasti Allah akan buka, meskipun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Tirmidzi). Wallahu a’lam.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/25/33838/pemberitaan-media-mainstream-sudah-masuk-kategori-ghibah-dan-iftira/#ixzz2VCSltHIk
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
Bagi kaum Muslimin, bulan Rajab ini penuh dengan kenangan indah dan sedih sekaligus, bulan kemenangan sekaligus tragedi. Bulan ini menyaksikan pekik takbir kemenangan para pahlawan Islam pada berbagai pertempuran sekaligus genangan air mata bahkan darah. Semoga semua kejadian itu menginspirasi kita untuk menciptakan sejarah indah bagi kaum Muslimin yang akan dikenang oleh memori generasi sepeninggal kita kelak.
Di bulan ini satu setengah abad yang lalu Rasulullah di-isra’kan dari kota Mekkah ke kota Al-Quds, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Di sana Rasulullah melaksanakan shalat berjamaah dengan para rasul dan beliau menjadi imamnya. Sebuah mukjizat yang kian menegaskan kenabian dan kerasulan beliau. Kendatipun orang-orang yang diliputi kedengkian di hati mereka dan tertutup dari cahaya hidayah menolak untuk mengakuinya, bahkan mereka mengolok-oloknya.
Pada bulan ini juga, tepatnya 5 Rajab 15 H atau 12 Agustus 636 kaum Muslimin memenangi perang Yarmuk melawan tentara Romawi. Kemenangan ini menjadi pintu gerbang bagi berbagai kemenangan kaum Muslimin di negeri Syam. Di antaranya kira-kira setahun kemudian, kaum Muslimin menaklukkan kota Damaskus dengan panglima Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Khalid bin Walid setelah pengepungan lama dimana tentara Romawi mempertahankan kota itu. Namun mereka tidak kuasa menahan pengepungan itu akhirnya terjadilah perundingan damai.
Lalu pada beberapa dekade kemudian pada bulan yang sama tahun 92 H. yang bertepatan 27 April 711 M. kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Thariq bin Ziyad memasuki daratan pegunungan di Spanyol yang kemudian dikenal dengan Jabal Thariq (Giblaltar) setelah menyeberangi laut Tengah yang kemudian menjadi jembatan bagi berbagai kemenangan di negeri Andalusia ini.
Dan peristiwa spektakuler yang terjadi pada bulan Rajab ini, yaitu kira-kira satu abad yang lalu, seseorang yang berasal dari suku Kurdi memimpin kaum Muslimin untuk membebaskan Masjidil Aqsha dari tentara Salib. Di tanggal yang sama -menurut sebagian ulama- dengan kejadian Isra’ Mi’raj, yakni 27 Rajab tahun 583 H atau 2 oktober 1187 M. Shalahuddin Al-Ayyubi memasuki Baitul Maqdis setelah membebaskannya dari tangan-tangan tentara Salib dalam sebuah perang yang dimenanginya, Hitthin. Bersama kaum Muslimin beliau shalat Jum’at di Masjidil Aqsha setelah 88 tahun tidak pernah berkumandang azan selama dalam cengkeraman tentara Salib. Di atas mimbar yang dibuat oleh pemimpin seniornya, Nuruddin Mahmud Zanki yang tidak sempat menyaksikan terbebaskan Masjidil Aqsha karena telah dipanggil Allah 13 tahun sebelum kemenangan itu. Mimbar itu dipindahkan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dari Aleppo kemudian tetap berada di masjid itu selama berabad-abad sampai kemudian dibakar Yahudi tahun 1969.
Shalahuddin Al-Ayyubi memasuki kota Al-Quds dan memaafkan penduduknya dan tidak ada penumpahan darah. Termasuk terhadap tentara yang tinggal di kota itu juga tidak memperlakukan sebagaimana tentara Salib terhadap kaum Muslimin ketika mereka menguasai Baitul Maqdis. Puluhan ribu orang terbunuh, bahkan mereka yang berlindung di Masjidil Aqsha dan Qubbatus Shakhrah
Shalahuddin yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk jihad di jalan Allah, menyatukan kaum Muslimin untuk memerdekakan negeri Muslim yang terjajah. Ditinggalkan nya negeri, keluarga, dan anak-anaknya dengan segala kemewahan dan ketenteramannya demi tercapainya cita-citanya, membebaskan Masjidil Aqsha. Seperti halnya Nuruddin Mahmud yang tidak pernah tersenyum semenjak Baitul Maqdis dikuasai tentara Salib. “Saya malu kepada Allah yang melihatku tersenyum sedangkan kaum Muslimin terjajah,” kata Nuruddin.
Saat ini Palestina dengan masjid sucinya kembali terjajah. Berawal dari bulan yang sama Zionis mengumumkan berdirinya Negara Israel, yakni pada 7 Rajab 1367 H. atau 15 April 1948 M. setelah mereka memenangi pertempuran melawan bangsa Arab.
Berdirinya negara Israel di Palestina tidak terlepas dari tragedi Rajab di Turki, dimana Mustafa Kamal Attaturk yang membubarkan Kekhalifahan Turki Utsmani. Tepat pada 27 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M. yang kemudian menobatkan dirinya sebagai pemimpin Turki dan mengusir khalifah beserta keluarganya ke luar negeri. Kemudian ia melakukan sekulerisasi di negeri itu dengan menutup kegiatan shalat di masjid Aya Sofia, mengambil sajadah-sajadahnya, mencopot hiasan-hiasan yang berbahasa Arab serta mimbarnya lalu merubahnya menjadi museum. Itu terjadi juga pada bulan Rajab, tepatnya 16 Rajab 1343 H atau 21 Februari 21 Februari 1925 M. Setahun kemudian ia mengeluarkan instruksi berupa kewajiban membaca Al-Qur’an dengan bahasa Turki sebagai gantinya Al-Qur’an dengan bahasa Arab dengan dalih orang-orang Turki tidak bisa berbahasa Arab. Hal itu terjadi pada 28 Rajab 1344 H.
Kini Masjidil Aqsha, kiblat pertama kaum Muslimin dan masjid suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu masih merana di bawah tekanan dan penjajahan bangsa Yahudi. Namun sayangnya tidak ada lagi Shalahuddin Al-Ayyubi dan Nuruddin Mahmud Zanki. Ribuan kaum Muslimin Palestina menjadi korban kebiadaban bangsa Yahudi tanpa ada kekuatan Islam yang berani mencegahnya. Tidak negeri Arab apalagi bangsa lain non-Arab. Disaksikan oleh mata dunia mereka membantai warga Palestina, bukan saja tentara namun rakyat sipil, bahkan orang tua, wanita, dan anak-anak.
Berbagai upaya perundingan damai yang diprakarsai oleh Dewan Keamanan PBB selalu dilanggar oleh Israel. Mulai dari Camp David yang ditanda-tangani oleh pemerintahan Mesir dan Tel Aviv pada tahun 1979 sampai perjanjian Oslo yang dibuat tahun 1993 dan ditanda-tangani dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dengan melucuti otonomi Otoritas Palestina pada sebagian besar wilayah pendudukan.
Sifat ingkar janji ini memang karakter asli mereka sebagaimana yang diingatkan Al-Qur’an.
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa.” Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang Kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 63-66)
Kewajiban Kaum Muslimin
Di bulan yang mengaduk-aduk perasaan kaum Muslimin ini hendaknya tertanam keyakinan bahwa persoalan Masjidil Aqsha tidak saja masalah yang harus ditanggung dan dihadapi bangsa Palestina sendiri. Kendatipun mereka berada di barisan terdepan dalam membebaskan Negeri Isra’ dari penjajahan Yahudi. Ini adalah bagian dari aqidah yang diimani oleh para pahlawan kaum Muslimin yang berjuang untuk membebaskannya.
Masjidil Aqsha adalah masjid tertua kedua di muka bumi bagi kaum Muslimin setelah Masjidil Haram yang kemudian menjadi kiblat pertama mereka sebelum Masjidil Haram.
Abu Dzar bertanya, “Ya Rasulullah, masjid pertama yang dibangun di muka bumi itu apa?” beliau menjawab, “Masjidil Haram.” Kemudian aku bertanya lagi, “Lalu masjid apa lagi?” beliau menjawab, “Masjidil Aqsha.” Aku tanyakan lagi, “Berapakah jarak antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat puluh tahun. Lalu dimana pun kamu mendapati shalat, shalatlah di situ, sebab keutamaan ada di situ.” (Muttafaq Alaihi)
Kemudian Rasulullah saw. juga menempatkan Masjidil Aqsha sebagai salah satu dari tiga tujuan wisata spiritual dimana seseorang mendapatkan pahala saat mengunjunginya, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha. Bahkan beliau juga mengabarkan kepada kita keutamaan shalat di dalamnya sebagaimana sabda beliau,
الصَّلاةُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِائَةِ أَلْفِ صَلاةٍ، وَالصَّلاةُ فِي مَسْجِدِي بِأَلْفِ صَلاةٍ، وَالصَّلاةُ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِخَمْسِمِائَةِ صَلاةٍ»
“Shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu shalat , shalat di Masjidku ini sama dengan seribu shalat, sedangkan shalat di Baitul Maqdis sama dengan lima ratus shalat (di tempat lain).” (Thabrani)
Secercah Harap
Bulan Rajab juga menjadi saksi bagi bergolaknya kembali aksi perlawanan bangsa Palestina terhadap penjajah Israel dengan sebuah aksi yang dikenal dengan Intifadhah Kedua. Yaitu pada 12 Rajab tahun 1422 H. atau 29 September 2000 M. Aksi ini dipicu oleh kunjungan provokatif yang dilakukan Perdana Menteri Ariel Sharon yang ketika itu juga menjabat ketua partai Likud. Ribuan warga Palestina bentrok melawan tentara bersenjata Israel demi mempertahankan Masjidil Aqsha. Aksi ini dinilai sebagai sebuah keberhasilan karena telah mengangkat masalah Palestina ke masyarakat dunia sekaligus mencoreng muka penjajah yang menggunakan segala cara dan alat tempur untuk menghentikan Intifadhah ini hingga terbunuh 3540 warga Palestina dan 60 ribu rumah luluh lantak akibat serangan rudal mereka. Ribuan warga terusir dari pemukiman mereka.
Jika saja bisa mengungkapkan, di bulan Rajab ini Masjidil Aqsha mungkin ingin menuturkan harapannya akan kedatangan Sang pembebas yang mengeluarkannya dari cengkeraman Zionis. Mengharapkan para pemimpin di dunia Arab dan Islam bersatu untuk menolongnya dari rekayasa Zionisme yang berupaya merobohkannya lalu membangun di atasnya Heikal Sulaeman, sebuah mitos dan khurafat rekaan mereka. mari kita tangisi diri kita yang tak mampu berbuat apapun untuk membebaskan kiblat pertama kaum muslimin ini.
Oleh: Asfuri Bahri, Lc
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
“Bacalah…”, “Iqra’…” Perintah pertama, wahyu pertama, dan kunci pertama Allah ajarkan untuk Nabi Muhammad SAW dan Umatnya. Apa artinya?
Ada arti yang luar biasa strategis diinginkan dengan agama Nabi Muhammad SAW ini. Untuk bisa lebih memahami pentingnya perintah membaca ini, mari kita bandingkan Umat Muhammad dengan umat-umat sebelumnya.
Untuk meyakinkan membuat Fir’aun dan kaum Nabi Musa, Allah menunjukkan kemukjizatan yang irasional, yaitu tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Nabi Isa, Allah berikan kemampuan menghidupkan orang mati, membuat orang buta bisa melihat, menyembuhkan penyakit lepra yang di kala itu tidak dapat disembuhkan sama sekali. Bagaimana dengan Umat Muhammad SAW? Rasulullah bersabda:
“Tidak seorang nabi pun melainkan diberikan (mukjizat) yang membuat manusia beriman terhadap hal-hal seperti itu. Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Dan aku berharap menjadi (nabi) yang paling banyak pengikutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Mukjizat Nabi Muhammad SAW bukan hal-hal yang irasional. Nabi Muhammad mengajak umat manusia beriman atas dasar kerja akal dan proses berpikir rasional. Mari renungkan perintah Allah untuk membaca tersebut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Apa yang diperintahkan untuk dibaca? Tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Karena yang lebih penting adalah bagaimana proses membaca dilakukan. Sangat banyak hal-hal yang harus dibaca. Supaya proses membaca menjadi efektif dan bermanfaat, Allah ajarkan adalah bagaimana kita membaca. Karena itu secara gamblang Allah jelaskan how to-nya: “Bacalah dengan nama Sang Pencipta.” Proses membaca yang bermanfaat yang mendorong pada keimanan kepada Sang Pencipta. Kegiatan membaca yang efektif adalah membaca yang dimulai dengan keberkahan iman kepada Allah. Allah yang menciptakan manusia. Allah merupakan sumber ilmu. Allah yang dengan murah hati memberikan karunia-Nya kepada hamba-Nya.
Bahan bacaan yang paling baik adalah al-Qur’an. Kualitas bahan bacaan selalu ditentukan oleh kualitas sumbernya. Membaca tulisan yang dikarang seorang pakar di bidangnya tentu jauh bermanfaat dibandingkan tulisan yang dikarang oleh orang awam. Lalu bagaimana dengan bahan bacaan yang berasal dari Sang Pencipta Langit dan Bumi?
Membaca al-Qur’an berarti mengkonsumsi informasi yang paling berkualitas yang ada pada umat manusia. Membaca al-Qur’an berarti menyerap ilmu yang paling tinggi yang mungkin diraih manusia. Membaca al-Qur’an berarti melakukan peningkatan cakrawala dengan sarana terbaik. Membaca al-Qur’an berarti meningkatkan kualitas diri dengan nara sumber yang paling ideal yang tidak terbayangkan ketinggian kualitasnya.
Ada empat level dalam membaca al-Qur’an. Semuanya penuh berkah dan manfaat. Semakin tinggi level membaca seseorang, semakin besar manfaat yang diperoleh.
Level Pertama: Mengucapkan al-Qur’an dengan Benar
Rasulullah SAW, para sahabatnya dan para ulama sangat memberikan perhatian yang besar terhadap bagaimana mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an secara baik dan benar. Karena bentuk ideal transfer informasi adalah penyampaian redaksi secara tepat. Kesalahan pengucapan berakibat buruk pada proses transformasi informasi. Kalimat-kalimat ilahi dalam al-Qur’an bukan saja memuat informasi dan ajaran kebenaran dan keselamatan, tetapi juga memuat keindahan bahasa, ketinggian kualitas sastra, serta keagungan suasana ilahiyyah. Karena itu dalam membaca al-Qur’an sangat dianjurkan untuk memperhatikan adab-adabnya, seperti harus dalam keadaan suci, berpakaian menutup aurat, membaca dengan khusyu’, memperindah suara semampunya, dan memperhatikan tajwidnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Perindahlah al-Qur’an dengan suara kalian.” (HR Abu Daud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Al-Qur’an adalah kata-kata dari Allah yang Maha Indah, karena itu semaksimal mungkin kita menerjemahkan keindahan tersebut dengan cara kita membaca. Meskipun demikian bukan berarti mereka yang tidak mampu mengucapkan al-Qur’an dengan fasih mereka tidak boleh membaca al-Qur’an. Cukup bagi seorang mukmin untuk berusaha sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW bersabda:
“Orang mahir membaca al-Qur’an, bersama dengan malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur’an terbata-bata dan mengalami kesulitan (mengucapkannya) dia mendapatkan dua pahala.” (HR Muslim)
Subhanallah, ini adalah kemurahan Allah SWT. Yang membaca al-Qur’an dengan penuh kesulitan dan terbata-bata Allah justru memberi dua pahala, yaitu pahala mengucapkan al-Qur’an dan pahala menghadapi kesulitan. Meskipun demikian yang mahir tetap mendapatkan kelebihan derajat yaitu kemuliaan bersama dengan para malaikat.
Level Kedua, Membaca dengan Pemahaman
Maksud dari semua perkataan adalah pemahaman terhadap makna dari perkataan tersebut. Demikian juga al-Qur’an. Allah menurunkan al-Qur’an kepada umat manusia bukan sekadar dibunyikan tanpa dipahami. Al-Qur’an bukanlah mantera-mantera yang diucapkan dengan komat-kamit. Al-Qur’an adalah petunjuk. Dan al-Qur’an tidak akan menjadi petunjuk jika maknanya tidak dipahami. Allah mengecam Ahlul Kitab yang merasa memiliki kitab suci tetapi tidak mengetahui isinya, Allah berfirman:
“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali angan-angan belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (QS.Al-Baqarah: 78).
Allah menyebut Ahlul Kitab sebagai “ummiyyin” padahal mereka mampu membaca dan menulis, tetapi karena mereka tidak mengetahui isi Kitab Suci mereka Allah menyebut mereka sebagai buta huruf. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa makna kata “amani” artinya membaca. Berdasarkan tafsir ini, kita memahami bahwa membaca saja tidak membuat kita mendapatkan hidayah jika kita tidak memahami dan mengetahui makna kalamullah.
Untuk memahami al-Qur’an tentu saja perlu mempelajari bahasanya. Bagi yang tidak mengetahui bahasa Arab, membaca terjemahan atau tafsir berbahasa Indonesia bisa dijadikan pengganti sebagai langkah darurat. Saya katakan itu adalah langkah darurat, karena ketinggian bahasa al-Qur’an tidak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Terjemahan al-Qur’an hakikatnya hanyalah terjemahan dari pemahaman sang penerjemah. Bahkan jika kita tanya kepada siapapun yang menerjemahkan al-Qur’an, pasti dia akan mengatakan tidak semua makna yang dikandung oleh lafal-lafal al-Qur’an dapat ditemukan padanannya pada bahasa lain.
Setingkat lebih baik dari terjemah al-Qur’an adalah terjemahan tafsir al-Qur’an, atau tafsir yang memang ditulis dalam bahasa Indonesia. Siapapun yang ingin mempelajari isi al-Qur’an tidak boleh melewatkan kitab-kitab tafsir. Seorang yang ahli bahasa Arab pun tidak akan tepat memahami al-Qur’an jika tidak mempelajari kitab tafsir. Karena sebagaimana halnya semua bahasa yang hidup adalah dinamis. Tidak semua kata-kata yang dipakai orang zaman sekarang memiliki makna yang sama dengan makna yang dipakai pada zaman turunnya al-Qur’an. Misalnya, kata ‘sayyaroh’ pada zaman ini berarti mobil, sedangkan dalam al-Qur’an ‘sayyaroh’ berarti kafilah dagang. Kata ‘qoryah’ di zaman sekarang dipakai untuk makna desa, sedangkan dalam al-Qur’an artinya adalah kota atau negeri.
Di sisi lain kitab-kitab tafsir beragam kualitasnya sesuai dengan kapasitas keilmuan penulisnya. Yang paling dekat dengan kebenaran adalah yang paling banyak menggali pemahaman dari wahyu itu sendiri. Metode yang paling baik dalam menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan Hadits Nabi, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan perkataan tabi’in, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan kaidah bahasa. Kitab tafsir yang paling baik menerapkan metode ini adalah Tafsir Ibnu Katsir.
Dikarenakan al-Qur’an kitab yang universal, maka setiap masa selalu membutuhkan penafsiran yang mengupas al-Qur’an terkait dengan isu-isu kontemporer. Pada abad ke-19 dan ke-20 muncul tafsir-tafsir kontemporer seperti al-Manar karya Rasyid Ridho, at-Tahrir wat-Tanwir karya Ibnu Asyur, Adhwa-ul Bayan karya Muhammad Amin asy-Syinqithy, dan yang fenomenal adalah Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb.
Level Ketiga, Membaca dengan Tadabbur
Al-Qur’an mendorong manusia untuk memfungsikan akal dan hatinya lebih jauh dari sekadar memahami, walaupun level memahami al-Qur’an adalah level aktivitas otak yang tinggi. Jika seseorang memahami Kalamullah berarti dia telah mencerna informasi yang luar biasa tinggi kualitasnya. Tetapi ternyata Allah menginginkan kapasitas pemikiran seorang muslim bergerak lebih jauh. Al-Qur’an mendorong akal dan hati untuk mentadabburi al-Qur’an. Tadabbur berarti deep thinking, merenungi, memperhatikan secara mendalam, menggali hakikat yang tersimpan di balik kata-kata, dan menyingkap horizon di belakang makna.
Hal itu karena hakikat-hakikat yang terangkum dalam al-Qur’an tidak semuanya hakikat yang permukaan yang sederhana dan mudah ditangkap. Banyak hakikat-hakikat yang membutuhkan pemikiran yang dalam, perenungan yang jauh serta pandangan yang tajam. Dan hal itu tidak mungkin didapatkan hanya sekadar dengan menangkap lapisan luar lafal-lafal al-Qur’an. Lebih jauh bahkan Allah menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan tujuan agar manusia mentadabburi ayat-ayat-Nya. Allah berfirman:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 76).
Untuk mentadabburi ayat-ayat Allah diperlukan hati yang bersih dan pemikiran yang tajam. Hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan mampu melihat secara jernih, karena syahwat akan banyak berbicara dan mengendalikan hati.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. al-Jatsiyah: 23).
Ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta juga hanya dapat ditangkap dan dipahami oleh hati-hati yang bersih.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab)” (QS. Ali Imran: 190).
Level Keempat, Membaca dengan Khusyu’
Masih ada plafon yang lebih tinggi di atas tadabbur? Ya, al-Qur’an terus mendorong manusia untuk terbang tinggi menuju ketinggian ruh, masuk ke alam penuh dengan keagungan ilahi dengan hati khusyu’ ruh sang mukmin menyaksikan keagungan Allah.
Setelah hati mampu melihat alam di belakang dunia materi, memahami hakikat di balik fenomena alam, ketika tirai tersingkap, hati mukmin yang mentadabburi al-Qur’an luluh. Hati tunduk melihat kebesaran Allah. Kulit bergetar merasakan keagungan Hakikat Mutlak.
“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. az-Zumar: 23).
Orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan ilmu ilahi, orang-orang yang kedalaman ilmunya kokoh akan bersujud tunduk, mata mereka akan memancarkan air mata kekhusyu’an setiap kali mereka diingatkan dengan ayat-ayat Allah, setiap kali hati mereka tersentuh dengan Kebenaran Ilahi Mutlak.
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (108) dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”. (109) dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. al-Isra’: 107-109).
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/17/25371/empat-level-membaca-al-quran/#ixzz2VBwwp0Fy
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
![]() |
| Oleh: Farid Nu’man Hasan |
Pertanyaan: Assalamu ‘alaikum wr wb, ustadz ana ada pertanyaan, bagaimana dengan Caleg Non Muslim di daerah minoritas Muslim ? (Fadhil. 0856xxxxx)
Jawaban:
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh, Banyak pertanyaan kepada kami mengenai ini, baik melalui sms atau email. Terkait adanya Partai Islam yang mencalonkan Non Muslim sebagai Caleg (Calon Anggota Legislatif) dari partai Islam tersebut. Yang perlu ditekankan adalah tentunya caleg non muslim tersebut wajib mengakui asas Islam dan platform partai Islam tersebut. Apakah hal keberadaan mereka untuk membantu perjuangan Partai Islam dibenarkan syariat? Ataukah ini hal yang sifatnya situasional dan bisa berlaku bagi daerah tertentu, daerah yang minim umat Islam dan juga lemah keadaannya seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, namun tidak boleh bagi daerah lain yang umat Islam adalah mayoritas dan kuat, seperti pulau Jawa dan Sumatera?
Debatable Sejak Lama …
Sebenarnya masalah ini bukan permasalahan baru, tetapi sudah terjadi sejak lama; yakni bolehkah dalam perjuangan umat Islam dengan memanfaatkan bantuan orang kafir, baik bantuan dana, persenjataan, atau partisipasi langsung jiwa raga mereka dalam barisan umat Islam.
Dahulu, awal tahun 90-an, pasca serangan Irak ke Kuwait, yang akhirnya melahirkan perang teluk pertama, para ulama di kerajaan Arab Saudi memfatwakan bolehnya meminta bantuan Amerika Serikat (saat itu dipimpin oleh George Bush Senior) yang notabene kafir untuk melawan keberingasan Saddam Husein, seorang Sosialis Aktifis Partai Ba’ts Irak, yang didirikan oleh Michael Aflaq, seorang Kristen.
Mereka menganggap Saddam Husein sudah bukan lagi muslim, baik karena kekejamannya kepada umat Islam Kurdi dan semua lawan politiknya, dan juga karena ideologinya yang Sosialis. Kekafiran Saddam Husein difatwakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Said Hawwa (Siria), Syaikh Abdullah ‘Azzam (Al Filisthini tsumma Al Urduni), dan lainnya. Sederhananya adalah memanfaatkan kekuatan orang kafir untuk melawan orang kafir lainnya, karena keadaan diri yang masih lemah.
Fatwa ini, bukan berarti tanpa kritik. Para ulama Arab Saudi sendiri mengkritiknya, khususnya dari para ulama muda semisal Syaikh Salman Fahd Al ‘Audah (Wakil Ketua Ikatan Ulama Muslimin Sedunia yang diketuai oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawi) dan Syaikh ‘Aidh Al Qarny (pengarang kitab Laa Tahzan), yang karena kritikannya itu mereka berdua di penjara oleh pihak Kerajaan.
Kritikan juga datang dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah yang tidak menyetujui fatwa tersebut. Sebab, dari fatwa ini yang menjadi korban bukanlah AS dan Saddam Husein dan tentaranya, tetapi rakyat Irak yang muslim. Merekalah yang mengalami penderitaan karena kezaliman AS dan Saddam Husein saat itu.
Lebih lama lagi, gerakan Islam terbesar abad modern, Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir pada masa Al Ustadz Syahidul Islam Hasan Al Banna Rahimahullah juga pernah menempatkan seorang Kristen Koptik (Qibthy) sebagai wakil mereka di palemen Mesir. Sejak jauh hari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang menyebutkan bahwa kaum Koptik akan menjadi penolong perjuangan umat Islam.
Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha, bahwa menjelang wafat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau berwasiat:
الله الله فى قبط مصر فإنكم ستظهرون عليهم فيكونون لكم عدة وأعوانًا فى سبيل الله
Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, dalam bergaul dengan kaum Qibthi Mesir. Sesungguhnya kalian akan mengalahkan mereka, dan mereka akan menjadi kekuatan dan pertolongan bagi kalian dalam perjuangan fi sabilillah. (HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, No. 561, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 34023)[1][1]
Abdullah bin Yazid dan Amru bin Huraits, dan slainnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إنكم ستقدمون على قوم جعد رؤوسهم فاستوصوا بهم خيرا فإنهم قوة لكم وبلاغ إلى عدوكم بإذن الله ـ يعني قبط مصر ـ
Sesungguhnya kalian akan mendatangi kaum yang keriting kepalanya, maka berwasiatlah yang baik-baik dengan mereka, karena mereka akan menjadi kekuatan bagimu, dan menjadi bekal bagimu untuk melawan musuh-musuhmu dengan izin Allah–yaitu kaum Qibthi Mesir. (HR. Abu Ya’la No. 1473, berkata Husein Salim Asad: para perawinya tsiqaat (terpercaya). Ibnu Hibban No. 6677)[2][2]
Penolong kita adalah Allah, RasulNya, dan Orang-orang beriman
Inilah dasar bagi setiap orang beriman, tidak ragu lagi dan tidak diperdebatkan lagi, bahwa mereka menjadikan Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman sebagai tempat memberikan Al Wala. Itulah hizbullah yang dijanjikan kemenangan oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Al Wala bukan kepada orang kafir, musyrik, munafiq, ahludh dhalal, dan mubtadi’.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56)
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah (hizbullah) Itulah yang pasti menang. (QS. Al Maidah: 55-56)
Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala (loyalitas dan cinta) kepada Yahudi dan Nasrani, dan ini terlarang. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al Maidah: 51)
Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala kepada orang-orang yang mempermainkan agama. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (57)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu (Yakni Ahli Kitab), dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al Maidah: 57)
Apakah makna wali dalam ayat-ayat ini? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berati penolong dan kekasih. (Imam Ibnu Jarir, Jami’ul Bayan, 9/319)
Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai (pemimpin). (Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582)
Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.
Bagaimana jika keadaan tidak normal; lemah dan masih sedikit
Bagaimana jika keadaan umat Islam masih sedikit (minoritas) -tentunya juga masih lemah- bolehkah meminta bantuan mereka dalam sebagian urusan kaum muslimin? Tentunya dalam hal ini adalah Partai Islam di sana memanfaatkan non muslim sebagai wakilnya di parlemen mereka di sana?
Sebab, jangankan mencari kadernya sendiri, mencari orang Islam saja tidak mudah. Tentunya adalah sebuah prestasi tersendiri jika ada Partai Islam yang mampu mengajak orang kafir untuk turut membantu perjuangan ideologi dan platform Partai Islam tersebut. Bagaimana bisa seseorang yang tidak meyakini kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak mengakui kebenaran Islam, justru dengan sadar jatuh hati dan tertarik, lalu menawarkan dirinya ikut membantu perjuangan Partai Islam?
Lalu, apakah ayat-ayat tentang larangan meminta bantuan kepada orang kafir tetap berlaku dalam keadaan lemah dan minor seperti ini? Ataukah ini situasi yang dimaafkan dan dikecualikan?
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukannya
Dalam proses perjalanan hijrah ke Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu memanfaatkan jasa bantuan seorang dari Bani Ad Diil yang beragama kafir Quraisy sebagai petunjuk jalan menuju Madinah.
‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bercerita:
وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy. (HR. Bukhari No. 2264)
Ini menjadi dasar bahwa meminta bantuan orang kafir adalah boleh, jika dalam keadaan lemah, dan masih sedikit.
Jika memang ini terlarang secara mutlak, tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi orang pertama yang mencegah dirinya sendiri untuk melakukan itu dan dia akan serukan kepada segenap manusia.
Tetapi, kenyataan justru menunjukkan sebaliknya, saat itu kaum muslimin yang tersisa di Mekkah tinggal berlima; Nabi, Abu Bakar, putranya, Asma, dan Ali. Jumlah yang sedikit dan tentunya lemah.
Mereka pun sudah memiliki tugas masing-masing, putranya Abu Bakar tetap berada di Mekkah untuk mengawasi keadaan dan mencari-cari perkembangan berita. Asma Radhiallau ‘Anha bertugas membawakan makanan untuk Nabi dan Abu Bakar, sementara Ali Radhiallahu ‘Anhu berada di rumah nabi menggantikannya setelah nabi dikepung oleh gabungan berbagai kabilah kaum kuffar Quraisy.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah mendapatkan dukungan dari Musyrikin Bani Khuza’ah untuk melawan musuhnya. Juga masih banyak peristiwa-peristiwa lainnya, sebagaimana yang nanti kami lampirkan.
Pandangan Para Ulama
Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata tentang peristwa hijrah tersebut:
وَفِي الْحَدِيثِ اسْتِئْجَارُ الْمُسْلِمِ الْكَافِرَ عَلَى هِدَايَةِ الطَّرِيقِ إِذَا أُمِنَ إِلَيْهِ واستئجار الْإِثْنَيْنِ وَاحِدًا على عمل وَاحِد جَازَ
Dalam hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim mengupah orang kafir untuk membantunya memberikan petunjuk jalan jika hal itu aman baginya, dan juga dua orang yang mengupah satu orang dalam satu perbuatan, itu adalah diperbolehkan. (Fathul Bari, 4/442-443)
Imam Ibnu Baththal Rahimahullah menjelaskan:
عامة الفقهاء، يجيزون استئجارهم – أي المشركين – عند الضرورة وغيرها لما في ذلك من المذلة لهم، وإنما الممتنع أن يؤاجر المسلم نفسه من المشرك لما فيه من إذلال المسلم
Kebanyakan ahli fiqih membolehkan mengupah mereka –yaitu kaum musyrikin- ketika kebutuhannya mendesak dan selainnya, dan karena hal itu dapat merendahkan mereka (musyrikin), sebaliknya seorang muslim janganlah menjadi orang yang diupah oleh kaum musyrikin, karena hal itu dapat merendahkan seorang muslim. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 6/387)
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:
في استئجار النبي صلى الله عليه وسلم عبد الله بن أريقط الدؤلي هاديا في وقت الهجرة وهو كافر دليل على جواز الرجوع إلى الكافر في الطب والكحل والأدوية والكتابة والحساب والعيوب ونحوها ما لم يكن ولاية تتضمن عدالة ولا يلزم من مجرد كونه كافرا أن لا يوثق به في شيء أصلا فإنه لا شيء أخطر من الدلالة في الطريق ولا سيما في مثل طريق الهجرة.
Pada saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengupahi Abdullah bin Uraikith Ad Du’aliy sebagai orang yang menunjuki jalan pada waktu hijrah, dia dalam keadaan kafir, menunjukkan bolehnya merujuk kepada orang kafir dalam hal kedokteran, pengobatan, tulis menulis, menghitung, dan semisalnya, selama pertolongan itu tidak mengandung semakin kuatnya kekafirannya, maka tidak apa-apa memintanya sebagai petunjuk jalan apalagi jalan untuk hijrah. (Bada’i Al Fawaid, 3/208)
Imam Al Hazimi mengatakan:
وذهبت طائفة: إلى أن للإمام أن يأذن للمشركين أن يغزوا معه ويستعين بهم ولكن بشرطين:
(1) أن يكون في المسلمين قلة وتدعو الحاجة إلى ذلك.
(2) أن يكونوا ممن يوثق بهم فلا تخش ثائرتهم.
Segolongan ulama berpendapat: “Pemimpin bisa mengijinkan orang-orang musyrik bergabung bersamanya dalam peperangan dan membantu kaum muslimin, dengan dua syarat:
Pertama, jumlah kaum muslimin hanya sedikit dan ada faktor yang mendorong kebutuhan itu.
Kedua, orang-orang musyrik tersebut bisa dipercaya dan tidak dikhawatirkan akan memberontak.” (Imam Al Hazimi, Al I’tibar fin Naasikh wa Mansuukh, Hal. 219)
Al Hazimi menambahkan:
ولا بأس أن يستعان بالمشركين على قتال المشركين إذا خرجوا طوعاً ولا يسهم لهم
“Boleh meminta pertolongan kepada orang musyrik untuk memerangi orang musyrik lainnya, selagi mereka bergabung dengan patuh dan tidak memberi andil bagi musuh.” (Ibid, Hal. 220)
Imam Ibnul Qayyim mengatakan:
الاستعانة بالمشرك المأمون في الجهاد جائزة عند الحاجة لأن عينه صلى الله عليه وسلم الخزاعي كان كافراً إذ ذاك، وفيه من المصلحة أنه أقرب إلى اختلاطه بالعدو وأخذه أخبارهم
Meminta pertolongan orang musyrik yang terpercaya dalam medan jihad adalah dibolehkan ketika dibutuhkan, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah meminta pertolongan kepada seorang dari Bani Khuzaah yang kafir, dan di sini adanya maslahat karena orang yang diminta bantuan tersebut bisa bergaul dengan musuh dan bisa diambil berita tentang mereka darinya. (Zaadul Ma’ad, 3/303)
Imam Ibnul Qayyim juga berkata:
للإمام أن يستعير سلاح المشركين وعدتهم لقتال عدوه. كما استعار رسول الله صلى الله عليه وسلم أدرع صفوان بن أمية وهو يؤمئذ مشرك
Seorang pemimpin bisa meminjam senjata dari kaum musyrikin dan apa saja yang mereka miliki untuk memerangi musuh. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminjam baju perang dari Shafwan bin Umayyah yang saat itu masih musyrik. (Ibid, 3/479)
Imam Muhamamd bin Abdul Wahhab Rahimahullah mengatakan:
الانتفاع بالكفار في بعض أمور الدين ليس مذموماً لقصة الخزاعي
Memanfaatkan kaum kuffar pada sebagian urusan agama bukanlah termasuk tercela berdasarkan kisah seorang dari Bani Khuza’ah. (Mulhaq Mushannafat Al Imam Muhamamd bin Abdul Wahhab Hal. 7)
Demikianlah, dapat disimpulkan dari penjelasan para imam di atas:
- Tidak apa-apa memanfaatkan bantuan orang kafir jika dalam keadaan lemah dan masih sedikit, sebagaimana memanfaatkan non muslim menjadi caleg partai Islam di daerah minoritas muslimnya. Ini adalah keadaan yang memang tidak bisa disamakan dengan keadaan normal.
Jika memang mutlak terlarang, pasti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan memanfaatkan bantuan Abdullah bin Uraikith, bantuan Musyrikin Bani Khuza’ah, dan lainnya, ketika masih dalam keadaan awal da’wah Islam yang sedikit dan belum memiliki power yang cukup.
- Lalu, mereka wajib amanah dan mau patuh kepada kaum muslimin (dalam konteks Partai Islam, mereka mau tunduk dengan AD/ART, Asas Islam, dan Platformnya)
Jika Kaum Muslimin mayoritas ….
Ada pun jika keadaan umat Islam mayoritas di sebuah daerah, maka tidak ada pilihan yang sulit untuk menjadikan seorang muslim saja sebagai caleg. Maka, tidak dibenarkan menjadikan non muslim sebagai caleg. Sebab, ini bukan situasi yang dikecualikan.
Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu menulis surat kepada Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu sebagai penguasa (gubernur) Bahrain yang sudah berhasil ditaklukan, berikut ini penggalan suratnya:
…وَأَبْعِدْ أَهْلَ الشَّرِّ وَأَنْكِرْ أَفْعَالَهُمْ وَلَا تَسْتَعِنْ فِي أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ بِمُشْرِكٍ، وَسَاعِدْ عَلَى مَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ بِنَفْسِكَ، فَإِنَّمَا أَنْتَ رَجُلٌ مِنْهُمْ غَيْرَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَكَ حَامِلًا لِأَثْقَالِهِمْ.
“… dan jauhilah pelaku keburukan dan ingkarilah perbuatan mereka, dan janganlah meminta pertolongan kepada orang musyrik dalam mengurus urusan kaum muslimin, dan bantulah kemaslahatan kaum muslimin oleh dirimu sendiri, karena engkau adalah seorang laki-laki termasuk golongan mereka maka Allah akan menjadikanmu sebagai pembawa beban berat yang mereka bawa.” (Imam Ibnul Qayyim, Ahkam Ahludz Dzimmah, 1/455)
Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu juga pernah meminta Abu Musa Al Asya’ri Radhiallahu ‘Anhu mencopot sekretarisnya yang Nasrani, berikut ini kisahnya:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ لِي كَاتِبًا نَصْرَانِيًّا، قَالَ: مَالِكٌ؟ قَاتَلَكَ اللَّهُ! أَمَّا سَمِعْتَ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ} [المائدة: 51] ، أَلَا اتَّخَذْتَ حَنِيفًا، قَالَ: قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لِي كِتَابَتُهُ وَلَهُ دِينُهُ، قَالَ: لَا أُكْرِمْهُمْ إِذْ أَهَانَهُمُ اللَّهُ وَلَا أُعِزُّهُمْ إِذْ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ، وَلَا أُدْنِيهِمْ إِذْ أَقْصَاهُمُ اللَّهُ.
Abu Musa Al Asy’ari berkata: Aku berkata kepada Umar: “Aku punya seorang sekretaris seorang Nasrani.” Beliau menjawab: “Kenapa kamu ini? Semoga Allah memerangimu.” Aku pernah mendengar Allah Ta’ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (QS. Al Maidah: 51). Kenapa kamu tidak menjadikan seorang yang hanif (muslim)?
Aku menjawab: “Wahai Amirul mu’minin, saya membutuhkan tulisannya, sedangkan agamanya urusan dia sendiri.”
Umar menjawab: “Aku tidak memuliakan mereka ketika Allah telah menghinakan mereka, dan aku tidak meninggikan mereka ketika Allah telah merendahkan mereka. Aku tidak merendahkan mereka ketika Allah telah meninggikan mereka.” (Ibid, 1/454)
Demikian. Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhamamadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain.
PKSTAKTAKAN | DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
PKSTaktakan.org - GAZA, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi melakukan kunjungan ke Gaza pada hari Kamis ini untuk memberikan dukungan kepada Hamas.
Syaikh Qaradhawi adalah ketua Federasi Ulama Muslim Internasional yang berbasis di Qatar dan telah menjadi pendukung revolusi yang mengguncang dunia Arab dalam dua tahun terakhir, membawa pemerintahan baru ke Tunisia, Mesir dan Libya.
Segera setelah tiba di Jalur Gaza, ulama kelahiran Mesir ini menyeru untuk bekerja sama memperjuangkan kemerdekaan Palestina, “Kita berharap kita dapat berjihad sampai mati,” kata Qaradhawi, “Kita harus berusaha membebaskan Palestina, seluruh wilayah Palestina, inchi demi inchi,”
Kedatangan Syaikh Qaradhawi disambut oleh Ismail Haniyeh. Dalam sambutannya, perdana menteri pemerintahan Hamas di Gaza itu mengatakan, ”Palestina saat ini menyambut Syaikh Musim Semi Arab, Syaikh Revolusi dan Syaikh Jihad di Palestina,”
Namun kunjungan Qaradhawi ke Gaza nampaknya tidak disenangi Presiden Palestina Mahmud Abbas. Menurut Presiden Palestina yang berkedudukan di Tepi Barat ini, kedatangan tamu-tamu luar negeri ke Gaza dapat melemahkan posisinya sebagai pemimpin rakyat Palestina. Sementara itu, Mahmud Al-Habbas, Menteri Agama Palestina di Tepi Barat pendukung Mahmud Abbas menyatakan, kunjungan Qaradhawi akan menguatkan perpecahan internal Palestina.
Israel, yang telah memberlakukan blokade terhadap Gaza, tidak berkomentar tentang kedatangan Qaradawi tersebut.
Akhir-akhir ini Gaza memang kerap dikunjungi tamu-tamu luar negeri. Tahun lalu, Emir Qatar melakukan kunjungan bersejarah ke Gaza . Menyusul Qaradhawi, bulan ini, Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan pun akan mengunjungi Gaza.
Syaikh Qaradhawi dijadwalkan meninggalkan Gaza pada hari Sabtu (11/5).
Sumber: http://www.al-intima.com
@hafidhuddin
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan pd setiap langkah yg kita jalani. Aamiin.
1. Pagi ini saya akan kultwit materi kajian tafsir #alhijri Ahad kmrn, 5 mei 2013 yg membahas ttg QS Furqan ayat 67-69.
2. Pembahasan kali ini mrpkn lanjutan dr materi kajian sblmnya (QS Furqan: 63-66) yg mbhs ttg ciri-ciri #Ibaadurrahman.
3. Pd kajian sblmnya, tlh dibahas 4 ciri yg termasuk #ibaadurrahman yaitu orang yg senantiasa tawadhu (rendah hati)..
4. ..menjawab keburukan dgn kebaikan, membiasakan sebagian malamnya diisi untuk shalat malam..
5. Serta senantiasa berdoa tdk hanya untuk dunia, tetapi jg untuk akhirat.
6. Untuk lbh jelasnya, silahkan dibuka kultwit saya yg lalu dgn hashtag #ibaadurrahman.
7. Kali ini, akan dibahas 4 ciri selanjutnya dr #ibaadurrahman (dimulai dr point kelima hingga kedelapan).
8. Kelima, #ibaadurrahman jg memiliki penghasilan, tdk berada pd 2 kondisi yg ekstrim yaitu tabdzir (berlebih2an) dan bakhil (pelit).
9. #ibaadurrahman senantiasa bsifat moderat di dlm memanfaatkan penghasilan yg dimiliki. Mrk tdk berlebih2an dan tdk pula kikir thd sesama.
10. Jgn sampai thd orang lain kita tdk pelit, tetapi thd keluarga sendiri malah kikir.
11. Maka untuk berada d dlm kondisi yg tdk ekstrim tsb, sebaiknya kita membiasakan diri untuk berada di dlm kesederhanaan
12. Krn d dlm hadist dikatakan bhw orang yg sederhana itu akan mampu mengatasi setengah dr masalah kehidupan.
13. Terdapat pendapat yg menarik dr Imam Mujahid ttg konsep pemanfaatan harta manusia yaitu..
14. "Jika Anda membelanjakan segunung harta di dlm rangka ketaatan kpd Allah, maka hal tsb tdk dianggap berlebih2an..
15. "Tp jika Anda membelanjakan harta meski hanya 1 shak (1 ltr) di dlm kemaksiatan kpd Allah, maka hal tsb adl berlebih2an."
16. Maka, jika kita mndptkn penghasilan, komposisi yg seharusnya dibelanjakan: pertama, keluarkan dulu zakatnya..
17. Kedua, keluarkan infaqnya, dan terakhir baru dibelanjakan untuk kebutuhan lainnya.
18. Insya Allah jk hal tsb dilakukan, kita tdk akan termasuk ke dlm kategori orang yg berlebih2an maupun bakhil.
19. Keenam, #ibaadurrahman adlh mereka yg memiliki tauhid yg kuat atau aqidah yg baik (aqidah salimah).
20. Misalnya, kita tdk boleh berdoa & memohon kpd selain Allah. Kpd Allah-lah kita menggantungkan segalanya.
21. Sebagai contoh, kita dilarang untuk meminta sesuatu kpd org yg telah meninggal (di makam/kuburan).
22. Krn yg dibutuhkan oleh orang yg sudah meninggal adlh doa dr yg masih hidup. Dan Rasulullah saw mencontohkan adab ziarah.
23. Yaitu beliau tdk berlama2 di kuburan, kemudian mendoakan & membaca QS Al-Falaq & An-Nas sbyk 11 kali.
24. Krn tujuan utama dr ziarah kubur hanya 2, yaitu mendoakan yg telah meninggal & mengingatkn kpd yg msh hidup ttg kematian.
25. Bukan untuk memohon pertolongan. Mintalah segalanya langsung kpd Allah SWT, bkn kpd makhluk-Nya.
26. Jauhilah segala bentuk kemusyrikan. Krn jk kemusyrikan trs merajalela, negara akan mudah sekali u diadu domba.
27. Ketujuh, #ibaadurrahman tdk mau melukai orang lain tnpa alasan yg sesuai syariat. Jgnkan membunuh, melukai saja tdk boleh.
28. "Barangsiapa membunuh 1 nyawa saja, maka seperti membunuh seluruh umat manusia..
29. ..Dan brgsiapa menyelamatkan 1 nyawa saja, maka seperti menyelamatkan kehidupan seluruh manusia."
30. Keempat, #ibaadurrahman tdk melakukan perzinahan. Maka, kita seharusnya jgn mendekati zina spti yg digambarkan di dlm Al-Quran.
31. Jgnkan melakukan, mendekati hal-hal yg dpt menyebabkan zina saja kita dilarang. #ibaadurrahman
32. Krn zina tdk akan mungkin dilakukan, tnpa diawali oleh sesuatu yg mendekatkan kpd perbuatan tsb. #ibaadurrahman
33. Misalnya, berpacaran, berdua-duaan dgn yg bkn muhrim, bersentuhan dgn yg bkn halal baginya. #ibaadurrahman
34. Maka kita hrs dpt menjaga diri kita, anak2 kita, & orang2 sekitar kita dr perbuatan yg dpt mendekati zina. #ibaadurrahman
35. Di dlm HR. Tabrani, Rasulullah SAW bersabda, "Hendaknya kalian menjauhi zina, krn zina akan mengakibatkan 4 hal.. #ibaadurrahman
36. "Pertama, zina akan menghilangkan kewibawaan dr wajah manusia." #ibaadurrahman
37. Ternyata segala optimisme & keceriaan di dlm diri kita akan dicabut oleh Allah SWT jk kita melakukan hal tsb. #ibaadurrahman
38. "Kedua, zina akan mengakibatkan pemutusan rezeki oleh Allah SWT." #ibaadurrahman
39. Maka slh kaprah jika ada seseorang yg menghalalkan perzinahan dgn alasan ekonomi, krn Allah tdk akan mberikan rezeki. #ibaadurrahman
40. Kalaupun mdptkn uang dr hasil berzina, itu hanyalah sementara. Harta tsb akan lsg habis & tdk akan berkah. #ibaadurrahman
41. "Ketiga, perzinaan akan mengundang kebencian & kemurkaan dr Allah SWT." #ibaadurrahman nau'dzubillah..
42. Kemurkaan Allah misalnya diturunkannya adzab, penyakit yg tiada obatnya, dll. Nau'dzubillah.. #ibaadurrahman
43. "Keempat, perzinaan akan mengakibatkan pelakunya kekal di dlm neraka-Nya." #ibaadurrahman
44. Jk perzinaan dianggap hal sepele & biasa, maka Allah SWT akan mengekalkannya di dalam neraka. Naudzubillah. #ibaadurrahman
45. Maka mari sama2 menjaga diri kita dr segala yg dpt mengundang murka-Nya Allah SWT. #ibaadurrahman
46. Demikian kultwit lanjutan ciri dr #ibaadurrahman. Mdh2an kita termasuk k dlm kelompok #ibaadurrahman tsb. Aamiin.
Didin Hafidhuddin
@hafidhuddin
Ketua Umum BAZNAS, Guru Besar IPB, Direktur Pascasarjana UIKA Bogor, Dewan Syariah Nasional MUI, dan Sekjen World Zakat Forum.














